Cara Mengatasi Bayi Gumoh Berlebihan dan Mencegahnya Kembali
Cara Mengatasi Bayi Gumoh Berlebihan Setiap bayi pasti pernah gumoh setelah menyusu. Anda melihat ASI atau susu formula keluar kembali dari mulut bayi. Kondisi ini sangat normal terjadi pada bayi baru lahir. Katup antara kerongkongan dan lambung bayi masih lemah. Makanan dengan mudah naik kembali ke kerongkongan. Namun, gumoh yang terlalu sering dan banyak perlu mendapat perhatian. Berikut cara mengatasi dan mencegah gumoh berlebihan pada bayi.
Perbedaan Gumoh dan Muntah
Gumoh berbeda dengan muntah, Anda perlu mengetahui perbedaannya. Gumoh terjadi pasif tanpa usaha dari bayi. ASI keluar perlahan dari sudut mulut saat bayi bersendawa. Jumlah ASI yang keluar biasanya sedikit, hanya satu hingga dua sendok makan. Bayi tidak menunjukkan rasa sakit atau tidak nyaman saat gumoh. Berat badan bayi tetap naik sesuai kurva pertumbuhan.
Muntah berbeda secara signifikan dari gumoh. Muntah terjadi dengan aktif, dikeluarkan dengan tekanan kuat. ASI menyembur keluar hingga jarak beberapa puluh sentimeter. Bayi tampak gelisah atau menangis sebelum muntah. Jumlah yang keluar bisa banyak, hampir seluruh isi lambung. Berat badan bayi bisa turun atau tidak naik. Segera konsultasikan ke dokter jika bayi menunjukkan tanda-tanda muntah.
Penyebab Bayi Sering Gumoh
Beberapa faktor menyebabkan bayi sering gumoh. Pertama, bayi minum terlalu banyak ASI atau susu formula dalam satu waktu. Lambung bayi hanya sebesar buah ceri saat lahir. Memberi terlalu banyak minum membuat lambung kelebihan kapasitas. Kedua, bayi menelan terlalu banyak udara saat menyusu. Udara ini mendorong ASI keluar saat bayi bersendawa.
Ketiga, posisi menyusu yang salah membuat bayi mudah gumoh. Kepala bayi harus lebih tinggi dari perutnya saat menyusu. Keempat, bayi langsung dibaringkan setelah menyusu tanpa disendawakan. Kelima, bayi bergerak terlalu aktif setelah menyusu. Gerakan seperti digoyang atau diajak bermain dapat memicu gumoh.
Posisi Menyusu yang Benar
Pastikan kepala bayi lebih tinggi dari perutnya saat menyusu. Untuk ibu menyusui, duduklah dengan tegak di kursi. Gendong bayi dengan posisi tengkurap menghadap ke dada Anda. Kepala bayi berada di lekukan siku Anda. Perut bayi menempel di perut Anda, tidak melintang. Untuk pemberian susu botol, pegang bayi dengan posisi setengah duduk. Jangan biarkan bayi minum sambil berbaring telentang.
Kemiringan botol juga mempengaruhi jumlah udara yang tertelan. Miringkan botol sehingga seluruh puting terisi susu. Udara tidak akan masuk ke mulut bayi jika puting selalu penuh susu. Pilih botol antikolik dengan lubang udara di bagian dasar. Botol ini mengurangi jumlah udara yang tertelan bayi.
Cara Menyendawakan Bayi yang Efektif
Sendawa mengeluarkan udara yang terperangkap di lambung. Sendawakan bayi di tengah waktu menyusu, bukan hanya di akhir. Untuk bayi yang sering gumoh, sendawakan setiap selesai minum 30-60 mililiter. Cobalah tiga posisi menyendawakan bayi berikut.
Posisi pertama, gendong bayi tegak dengan perut menempel di dada Anda. Sandarkan dagu bayi di bahu Anda. Tepuk punggung bayi perlahan dari bawah ke atas. Posisi kedua, dudukkan bayi di pangkuan Anda. Sangga dada dan dagu bayi dengan satu tangan. Tepuk punggung bayi dengan tangan lainnya. Posisi ketiga, tengkurapkan bayi di pangkuan Anda. Kepala bayi lebih tinggi dari dadanya. Tepuk punggung bayi perlahan.
Lanjutkan menepuk hingga bayi mengeluarkan sendawa. Beberapa bayi memerlukan waktu 5-10 menit untuk bersendawa. Jangan berhenti hanya karena bayi sudah tidak menangis. Udara mungkin masih terperangkap di lambung. Jika bayi belum bersendawa setelah 15 menit, mungkin ia tidak perlu sendawa saat itu.
Posisi Tidur Setelah Menyusu
Jangan langsung membaringkan bayi telentang setelah menyusu. Biarkan bayi tetap dalam posisi tegak selama 20-30 menit setelah menyusu. Gendong bayi di bahu Anda sambil berjalan perlahan. Anda juga bisa mendudukkan bayi di kursi goyang bayi yang aman. Setelah 30 menit, Anda boleh membaringkan bayi telentang.
Tinggikan kepala tempat tidur bayi sedikit. Letakkan handuk gulung di bawah kasur bagian kepala. Jangan meletakkan handuk atau bantal langsung di bawah kepala bayi. Bantal di bawah kepala bayi meningkatkan risiko SIDS. Miringkan kepala bayi ke satu sisi untuk mencegah tersedak jika gumoh terjadi saat tidur.
Jangan Memberi Bayi Terlalu Banyak
Perut bayi hanya memiliki kapasitas terbatas. Bayi baru lahir hanya bisa minum 30-60 mililiter setiap kali menyusu. Pada usia 1 bulan, kapasitas lambung meningkat menjadi 80-150 mililiter. Pada usia 3 bulan, kapasitas lambung mencapai 150-200 mililiter. Beri bayi minum dengan porsi kecil tapi sering.
Tanda bayi sudah kenyang antara lain menutup mulut saat Anda dekatkan puting. Bayi memalingkan wajah atau mendorong botol dengan tangannya. Bayi mulai tertidur saat menyusu. Jangan memaksa bayi menghabiskan seluruh susu dalam botol. Biarkan bayi menentukan sendiri kapan ia kenyang.
Cara Mengentalkan ASI atau Susu
Dokter mungkin merekomendasikan pengental ASI untuk bayi yang gumoh sangat parah. Campurkan satu sendok teh tepung beras ke dalam 60 mililiter ASI perah. Tepung beras harus dimasak terlebih dahulu hingga matang. Jangan memberikan tepung beras mentah kepada bayi. Untuk susu formula, ikuti petunjuk pada kemasan tentang cara mengentalkan.
Konsultasikan dengan dokter sebelum menambahkan apapun ke dalam ASI atau susu formula. Bayi di bawah 6 bulan belum siap mencerna tepung. Memberi tepung terlalu dini dapat menyebabkan alergi atau gangguan pencernaan. Dokter mungkin meresepkan obat khusus untuk mengatasi gumoh parah.
Kapan Gumoh Membahayakan Bayi
Gumoh normal tidak membahayakan bayi meskipun terlihat banyak. Bayi tetap ceria dan berat badannya naik normal. Namun, waspadai tanda-tanda bahaya berikut. Pertama, berat badan bayi tidak naik atau bahkan turun. Kedua, bayi tampak lemas dan kurang bertenaga. Ketiga, bayi menangis kesakitan saat atau setelah gumoh.
Keempat, gumoh berwarna hijau menandakan adanya cairan empedu. Kelima, gumoh berwarna coklat atau seperti bubuk kopi menandakan adanya darah. Keenam, bayi kesulitan bernapas saat gumoh. Ketujuh, bayi muntah proyektil setelah setiap kali menyusu. Segera bawa bayi ke dokter jika Anda melihat tanda-tanda ini.
Perawatan Tambahan untuk Bayi Gumoh
Ganti baju bayi segera setelah ia gumoh. ASI yang menempel di kulit dapat menyebabkan ruam dan iritasi. Lap leher, dada, dan lipatan tubuh bayi dengan waslap basah. Keringkan area tersebut dengan handuk lembut. Oleskan krim ruam jika kulit bayi sudah merah atau iritasi.
Siapkan kain lap atau waslap ekstra di dekat tempat Anda menyusui. Letakkan kain di bahu Anda saat menyendawakan bayi. Letakkan kain di bawah kepala bayi saat ia tidur. Kain akan menyerap gumoh sehingga bayi tidak tidur di tempat basah. Cuci semua perlengkapan bayi dengan deterjen lembut dan bilas hingga bersih. Sisa deterjen juga dapat mengiritasi kulit bayi.
Kesimpulan
Gumoh merupakan kondisi normal yang dialami hampir semua bayi. Anda tidak perlu panik melihat ASI keluar dari mulut bayi. Bedakan gumoh dengan muntah untuk mengetahui perlu tidaknya penanganan medis. Penyebab utama gumoh antara lain minum terlalu banyak, menelan udara, posisi menyusu salah, dan gerakan aktif setelah menyusu.
Terapkan posisi menyusu dengan kepala lebih tinggi dari perut. Sendawakan bayi di tengah waktu menyusu, bukan hanya di akhir. Biarkan bayi tetap tegak selama 20-30 menit setelah menyusu. Beri bayi minum dengan porsi kecil tapi sering. Jangan memaksa bayi menghabiskan susu jika ia sudah menunjukkan tanda kenyang.
Baca juga: Panduan Memilih dan Menggunakan Baby Walker dengan Aman
Konsultasikan dengan dokter sebelum menambahkan tepung ke dalam ASI. Waspadai tanda bahaya seperti berat badan turun, gumoh hijau atau coklat, dan kesulitan bernapas. Dengan perawatan yang tepat, gumoh bayi akan berkurang seiring bertambahnya usia. Katup kerongkongan bayi akan menguat saat ia mulai bisa duduk dan makan makanan padat. Sampai saat itu tiba, Anda hanya perlu sabar merawat si kecil. Gumoh tidak akan membahayakan bayi selama berat badannya terus naik dan ia tetap aktif.
